Pergaulan Negatif Balap Liar Insting

0
102
pergaulan negatif

Kali ini saya akan membahas pergaulan negatif anak Insting (In). Suatu ketika saya mendapat klien seorang anak tipe In. Kondisinya : tidak mau sekolah (kelas 1 SMK, baru masuk sepekan terlibat narkoba kemudian keluar, kumpul dengan pengangguran, suka berkelahi, suka balap liar, jarang pulang ke rumah). Setelah saya silaturahmi ke orang tuanya, maka saya deteksi bahwa anak ini tipe Insting. Dari cerita orang tuanya tersebut, anak ini terimbas pergaulan negatif,

Kemudian saya tanya ke orang tuanya, di mana saya bisa menemui anak ini ? Mereka menjawab ” Sulit pak. Karena anak ini pulang ke rumah sekitar jam 08.00 manakala kami sudah berangkat kerja, dan dia sudah pergi lagi sekitar jam 15.00 sebelum kami pulang. Demikian kehidupan dia sehari-hari “. Kemudian saya menyanggupi menemui anak tersebut antara jam 08.00-15.00. Kunjungan pertama tidak ketemu. Kunjungan kedua Alhamdulilah bisa ketemu anak ini bersama teman-temannya.

Pergaulan Negatif Balap Liar

Jumpa pertama tersebut saya memperkenalkan diri sebagai teman bapaknya. Dan saya sama sekali tidak menyinggung kenakalan dia. Karena anak ini tipenya Insting, maka kata kunci yang saya pakai adalah kegiatan UJI NYALI (adrenalin yang memacu detak jantung dia ). Kebetulan sepeda motornya sedang dimodifikasi di bengkel. Karena saya sendiri pernah kuliah di Teknik Mesin, maka sayapun paham apa saja yang akan dimodifikasi.

Saya dengar motormu dimodifikasi di bengkel ya mas ? Merknya apa ? “. ” Iya pak, motor saya Vega, sedang dimodif di bengkel “. Agar dia ngeklik ke saya, maka saya timpali ” Dulu waktu masih muda saya juga suka balapan pakai Hinda GL PRO. Larinya kencang mas, meskipun hanya di modif di karburatornya. Kalau sekarang saya sudah usia 48 tahun, ya cukuplah naik Supra 125….yah mentok lari 115 km / jam.

Motormu diganti boring tidak ? Itukan untuk menaikkan CC mesin sehingga tenaganya akan meningkat drastis “. ” Tidak ganti boring pak ” jawab dia. “Oya, anak saya bersama keponakan pas pulang liburan dari pondok, sukanya main tembak-tembakan pakai air soft gun. Kamu mau saya ajak ? “. Dengan wajah ceria dia jawab ” Mau pak ! “.

Setelah berbicang ke sana kemari, dia mulai membuka diri dengan mengatakan ” Pak, maaf saya ini tidak sekolah. Saya banyak bergaul dengan anak-anak yang tidak sekolah “. Saya nasehati dia ” Sudah mas, tidak usah mikir sekolah dulu, yang penting keseharianmu tidak membebani orang tua. Kalau kamu melakukan balap liar, itukan pemborosan. Sebaiknya kamu belajar bengkel, jadi nanti dari bengkel itu kamu bisa dapat uang, dan di sela-sela waktu tetap bisa ngebut di jalanan. Nanti coba saya carikan kursus perbengkelan. Bagaimana mau ?”. Dia mengangguk. Setelah berbincang tentang masa depan dia, sayapun pamit.

Beberapa saat kemudian orang tuanya telpon saya, bertanya bagaimana cara memisahkan anaknya dari pergaulan negatif dengan komunitas yang buruk tersebut. Saya jawab ” Tidak bisa bu, soalnya anak ini sudah enjoy dengan komunitas tersebut. Yang paling mungkin adalah mereka satu kelompok tersebut saya dekati dan saya tarbiyah (saya gembleng) agar kelak mereka nanti bisa berguna minimal untuk diri mereka sendiri “. Ibunya sepakat.

Pelajaran Yang Di Dapat

Yang jadi masalah adalah setelah konseling tersebut, kesibukan saya mengisi workshop se-Indonesia sangatlah padat, jadi belum bisa menindaklanjuti menterapi anak ini. Tetapi dari kisah tadi, minimal kita bisa mengambil pelajaran sebagai berikut :

  1. Untuk menyelesaikan suatu permasalahan, perlu diterjemahkan dulu pola pendekatannya. Dan pola terbaik adalah berdasarkan genetik atau bakat alaminya. Untuk anak Insting, maka pendekatannya adalah kegiatan yang berbau uji nyali. Maka dalam kasus di atas , saya membuka pembicaraan yang terkait dengan kegiatan dia memodifikasi sepeda motor untuk balapan. Jangan sebut negatifnya balapan. Yang penting yang bersangkutan nyaman dulu berkomunikasi dengan kita. Pembicaraan selanjutnya saya arahkan untuk bermain air soft gun bersama anak dan keponakan saya.
  2. Setelah klien nyaman, baru kita arahkan secara bertahap menuju target yang kita inginkan. Seringkali orang tua tidak sabar menempuh kedua hal di atas. Sehingga akhirnya gagal dalam menyesaikan masalah anaknya.
    Demikian sharing saya tentang anak Insting, mudah-mudahan bermanfaat

By : Sofyan Abdillah
(Konselor Berbasis STIFIn / STIFIn HR Expert)

TINGGALKAN KOMENTAR

Ketikkan komentar anda
Please enter your name here