Menantang Hukum Alam

0
126
Menantang Hukum Alam

Alam telah punya hukumnya sendiri. Hukum alam yang telah berlaku terus akan begitu dan tidak akan pernah berubah. Mengikuti hukum alam adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Laki-laki jadilah laki-laki. Perempuan jadilah perempuan. Manusia jangan jadi seperti binatang. Robot jangan dijadikan manusia. Kebaikan jangan dicampur keburukan.

Sesuai konsep STIFIn, bagi yang bergenetik Sensing jadilah orang Sensing. Demikian seterusnya dengan genetik Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Termasuk ikutilah aturan dalam hubungan segilima STIFIn. Bahwa S mendukung T. T mendukung In. In mendukung I. I mendukung F. Dan sebagai siklus tertutup, maka F kemudian mendukung S. Masih dalam hubungan segilima: S mengalahkan In, In mengalahkan F, F mengalahkan T, T mengalahkan I, dan sebagai siklus tertutup maka I kemudian mengalahkan S.

Baca juga :

Perjodohan

Nah…kemudian ada seseorang yang ingin menantang hukum alam tersebut. Kasus yang paling umum adalah perjodohan. Laki-laki T ingin nikah dengan perempuan F. Apa itu boleh? Tentu saja boleh. Hanya saja pahami konsekuensinya. Menurut hukum alam dalam konsep STIFIn, kemungkinan yang akan terjadi adalah sang istri (nantinya) akan mendominasi suami. Melemahkan suami. Menyedot kekuatan energi suami. Kemungkinan ini akan terjadi dengan mengabaikan variabel lain (dianggap cateris paribus). Jika dengan konsekuensi itu kemudian suami siap menjalani atas nama cinta, maka lanjutkanlah perjodohan tersebut.

Dengan memahami konsekuensinya, maka akan lebih mudah menjalani biduk rumah tangga ke depan. Meningkatnya jumlah perceraian dimanapun, salah satunya karena skema perjodohan yang menantang hukum alam (sesuai Konsep STIFIn) namun kemudian pakai jurus tangan kosong. Tanpa bekal bagaimana menghadapinya.

Sudah banyak klien kami yang kemudian mengatakan, “ternyata konsep STIFIn berlaku pada saya”. Maka, memahami ilmu akan memahami konsekuensi setiap pilihan.

Tidak perlu sombong dengan menantang hukum alam. Nanti seperti kata hadist, seseorang merasa sanggup menghadapi Dajjal namun kemudian ia ditaklukkan Dajjal. Menantang itu terkadang terselip sikap kesombongan. Bahkan itu dilakukan oleh orang yang merasa paling beriman ■ 030818

Farid Poniman
Penemu STIFIn

TINGGALKAN KOMENTAR

Ketikkan komentar anda
Please enter your name here