Memilih Bersyukur Atau Bersabar

0
539
Memilih Bersyukur Atau Bersabar

Memilih Bersyukur atau Bersabar

Menikah bukan sekadar memilih pasangan hidup yang beda jenis kelaminnya. Akan tetapi kita juga memilih jalan apa yang akan ditempuh agar SAMARA dapat terwujud. Jalan yang akan saya bahas yaitu memilih jalan bersyukur atau memilih jalan bersabar.

Pernahkah anda di bully begini sama teman teman sebelum menikah : “lo fer dapatin reny rezeki, reny dapatin elo musibah”. Ya itu bullyan kawan kawan saya dulu.

Jika dapat rezeki apa yang dilakukan ? Pada umumnya orang akan Bersyukur. Kalau dapat musibah apa yang dilakukan ? Pada umumnya orang berkata sabar yaaaaa. Jadi bullyan itu sama juga dengan : “bersyukur lo dapatin dia, bersabar dia dapatin lo”.

Mungkin sebagian kita anggap ini sekadar gurauan, bullyan belaka. Ternyata setelah kenal Konsep STIFIn saya baru sadar, secara tersyirat Allah sampaikan melalui bullyan itu sebagai nasehat awal sebelum menikah. Bahwa saya harus lebih banyak bersyukur dan reny lebih banyak bersabar agar SAMARA dapat terwujud dalam rumah tangga kami.

Sebelum kenal Konsep STIFIn, ini yang saya alami. Saya yang Intuiting sering kali mengecilkan dan menganggap remeh apa yang telah di kerjakan istri yang Sensing. Seolah tidak ada artinya dimata saya. Pekerjaan remeh temehnya saya anggap kecil, biasa saja. Tapi ketika saya melihat pemandangan yang berbeda dengan pasutri lainnya. Barulah saya tersadar bahwa saya harus banyak bersyukur.

1Pemandangan Yang Berbeda

Pemandangan apa yang membuat saya berubah dari yang awalnya sepele dengan istri, tidak mensyukuri peranannya, mengecilkan apa yang ia lakukan, menjadi rasa syukur yang tinggi. Berikut kisahnya.

Suatu hari saya melakukan Tes STIFIn Pasutri dengan hasil Mesin Kecerdasan istri Insting dan suaminya Feeling. Menurut Konsep STIFIn ini berarti Istri Insting menaklukkan Suami yang Feeling.

Suami yang Feeling, curhat ke saya. Istriku gak sama dengan istri temanku, ku lihat istri temanku, semua urusan bayi dan anaknya diurus telaten sama istrinya, teman ku yang ada disamping istrinya itu tenang gak ada ngurusin. Palingpun sesekali, dan di depanku istrinya tak pernah nyuruh nyuruh suaminya hanya untuk masalah nyebokin anak, gendong anak, ganti pempers anak, minta antarin anak ke toilet. Tapi aku, tiap bentar, istri minta tolong, pa, ambilin pempers adek sekalian gantiin ya, pa mandiin adek, pa adeknya beol, tolong di cebokin ya, mama lagi masak. Pa, adeknya udah dimandiin?. Pokoknya kayak gak senang kalo gak nyuruh nyuruh aku. Pantang liat aku duduk tenang. Ada aja yang dia suruh.

Ternyata curhat ini di dengar istrinya, lalu istrinya nyeletuk dibalik tembok kamar “loh pa, sebagai suami istri kita tim jadi harus saling membantu donk”. Iya ma, kalau sesekali bolehlah, kalau tiap hari tiap saat namanya aku pembantu” Dan setiap aku kasih pembantu dirumah, gak ada yang betah karena mama. “Kata suaminya.

Dan saya hanya diam seribu kata berada ditengah tengah mereka. Disaat itulah saya merasakan dan dalam hati berkata “bersyukur ya, aku tidak mengalami seperti itu”, saya harus lebih banyak bersyukur daripada bersabarnya.

Superior (Menaklukkan) dan Inferior (Ditaklukkan)

Kisah seperti itu juga saya temui pada saat Tes STIFIn Pasutri, Istrinya Sensing menaklukkan Suaminya yang Insting. Bawelnya istri yang Sensing menjadikan suaminya malas pulang cepat kerumah, dengan alasan capek disuruh suruh bini. Karena ia sudah capek seharian di kantor. Hal remeh temeh selalu aja nyuruh aku. Padahal dia bisa. Dan itu pekerjaan kodratnya wanita. Curhat suaminya.

Yap, jika Mesin Kecerdasan Istri menaklukkan Mesin Kecerdasan Suami, maka istri, secara alam bawah sadarnya cenderung menjadi superior, dan suami secara alam bawah sadarnya cenderung menjadi inferior.

Sehingga kecenderungan istri akan banyak menyuruh suaminya untuk hal remeh temeh, pekerjaan yang lazimnya sebagai kodratnya istri, tapi suami yang selalu disuruh. Sampai hal hal terkecil kepentingan istri pun bisa di suruh, “pa tolong ambilkan celana dalam sama BH mama ya”. Padahal istri jika mau bergerak aja, bisa tuh tanpa nyuruh suaminya. Karena superior jadi mulut sulit di rem untuk tidak menyuruh inferiornya. Layaknya BOS menyuruh Anak Buahnya.

Inilah yang disebut dalam Konsep STIFIn, suami seperti ini habis tenaganya dirumah ketika bersama istrinya, tapi diluar rumah, dikantor, dia punya energi lebih sehingga berupaya menunjukkan powernya, taringnya bisa muncul, dan taring inipun hilang saat tiba dirumah.

Aku bang, kalau di kantor kawan kawan suka ngebuli, di sini garang tiba dirumah hilang garangnya. Jadinya lebih banyak bersabar bang. “Curhat seorang suami”.

Menjaga Jarak

Inilah salah satu alasan mengapa solusi menjaga jarak (jarang bertemu) yang di tuangkan dalam Konsep STIFIn menjadi salah satu solusi bagi pasutri dengan postur Mesin Kcerdasan (MK) Istri menaklukkan MK Suami.

Menjaga jarak itu tanpa sadar sudah dilakukan suami, dengan kecenderungan suami malas pulang cepat kerumah, karena udah terbayang apa yang akan dialaminya jika dekat istrinya. Menjaga jarak ini juga bermanfaat agar kondisi keterpaksaan bisa hadir bagi sang istri untuk mandiri tanpa berharap bantuan suami. Sesekali mendapatkan tugas keluar kota bisa menjadi ajang “kebebasan” bagi suaminya. Bebas dari perintah sang istri.

Jika suami tidak sadar dengan posisinya yang ditaklukkan istri, maka tentunya jalan untuk ia bersabar akan menjadi sulit baginya, apalagi tanpa ilmu. Dan istri jika tak sadar posisinya menaklukkan suami, maka jalan untuk ia bersyukur akan menjadi sulit dan bisa jadi kufur nikmat karena memiliki suami yang penuh hikmat padanya.

Istri yang ditaklukkan suaminya, kecenderungan mereka segan, hingga berat mulutnya untuk digerakkan menyuruh nyuruh suaminya untuk pekerjaan yang kodratnya wanita dan hal remeh temeh begitu, jika tidak dalam kondisi terpaksa.

Hubungan Menaklukkan Dan Ditaklukkan

Konsep STIFIn sangat jelas menempatkan anda berada pada posisi menaklukkan atau ditaklukkan berdasarkan Mesin Kecerdasan anda. Untuk itu anda harus pahami Pola Segi Lima STIFIn Menaklukkan dan Ditaklukkan berikut agar mudah dalam memilih bersyukur atau bersabar.

  1. Istri Sensing Menaklukkan Suami Insting. Jadi istri harus banyak bersyukur, suami banyak bersabar. Sebaliknya, Suami Sensing menaklukkan Istri Insting. Jadi suami lebih banyak bersyukur dan istri banyak bersabar.
  2. Istri Insting Menaklukkan Suami Feeling. Sebaliknya. Suami Insting menaklukkan Istri Feeling.
  3. Istri Feeling menaklukkan suami Thinking. Sebaliknya suami Feeling menaklukkan istri Thinking.
  4. Istri Thinking menaklukkan suami Intuiting. Sebaliknya suami Thinking menaklukkan istri Intuiting.
  5. Istri Intuiting menaklukkan Suami Sensing. Sebaliknya suami Intuiting menaklukkan istri Sensing.

Jika Mesin Kecerdasan (MK) anda menaklukkan MK pasangan hidup anda, maka jalan bersyukurlah yang harus anda tempuh. Banyak banyaklah bersyukur. Sebaliknya jika MK anda dalam posisi ditaklukkan MK pasangan anda. Maka jalan bersabarlah yang harus anda tempuh. Banyak banyaklah bersabar, elus dada.

Memilih Bersyukur atau Bersabar Dengan Ilmu Yang Benar

Dengan mengetahui Konsep STIFIn anda sudah bisa mengetahui sikap apa yang akan anda pilih jika menikah nanti. Mau memilih Bersyukur atau Bersabar. Jika anda merasa sulit bersabar, maka pilihlah jalan bersyukur dengan memilih pasangan hidup yang anda taklukkan. Dan sebaliknya, jika anda merasa sulit bersyukur pilihlah jalan bersabar dengan memilih pasangan yang menaklukkan anda. Ini jika anda belum menikah. Masih bisa memilih.

Memilih Bersyukur atau bersabar sama konsekwensinya. Bersabar dapat pahala, tidak bersabar dapat dosa. Demikian juga bersyukur dapat pahala, kufur dapat dosa. Keduanya ada perintahnya. Namanya perintah adalah ibadah, dan ibadah dilakukan terus sampai akhir hayat. Jadi gak ada ceritanya bersyukur dan bersabar ada batasnya. Kecuali kematian, itulah batas akhir dari semua ibadah.

Ayah Farid Poniman penemu Konsep STIFIn mengatakan untuk Bersyukur dan Bersabar dengan jalan yang benar adalah dengan Berilmu. Jika kita punya Ilmu nya (Paham Konsep STIFIn) maka memilih bersyukur atau bersabar menjadi lebih mudah. Memahami Konsep STIFIn sebagai ilmu bisa membuat anda mudah untuk bersyukur dan bersabar. Jika anda sulit, berarti anda belum paham Konsep STIFInnya, atau sudah paham, tapi tidak diaplikasikan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Ketikkan komentar anda
Please enter your name here