Keunggulan Kompetitif Dan Komparatif

0
79
keunggulan kompetitif

Menurut Kwik Kian Gie Indonesia telah dimiskinkan secara struktural. Juga tidak memiliki keunggulan kompetitif untuk bangkit. Satu-satunya yang dimiliki keunggulan komparatif dalam bentuk sumberdaya alam itupun sudah dijual kepada asing. Hanya pemimpin visioner bernyali yang bisa menghadapi situasi sulit ini. Yang berani meminta ‘hair cut’ terhadap utang struktural atau setidaknya penjadwalan ulang.

Baca juga : Mahathir Layak Dapat Hadiah Nobel

Mungkinkah Indonesia bangkit? Sangat mungkin! Jika ada ‘Erdogan’ atau ‘Mahathir’ atau ‘Soekarno baru’ di Indonesia yang kepemimpinannya didedikasikan untuk bangkit dari kemiskinan struktural tersebut. Yang berani menghentikan campur tangan asing dalam bentuk apapun. Dan yang paling penting adalah dekat dengan ulama dan umat dan menjadikan keshalehan sosial sebagai platform utama untuk bangkit. Yaitu ‘Soekarno baru’ yang tidak memenjarakan ‘Hamka-Hamka’ yang justru merupakan aset utama bangsa.

Kenapa kedekatan ulama dan umat itu yang paling penting? Faktanya kebanyakan para penjajah, perpanjangan tangan penjajah, dan para pengkhianat bangsa bertindak individualis, kapitalis, dan oportunis membawa hasil eksploitasi (sumberdaya dan pasar) di Indonesia ke luar negeri. Mereka telah mementingkan diri sendiri dibandingkan kepentingan bangsa. Hanya suaranya vokal yang sok pancasilais. Insyaallah ulama dan umat tidak akan melakukan itu. Karena sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan berkat kucuran darah para syuhada.

Keunggulan kompetitif khusus itu akan datang dari keberkahan bangsa berkat keshalehan mereka. Sujud-sujud mereka telah menjadi gravitasi tarikan rezeki sumberdaya alam di bawah kening-kening mereka. Biaya sosial dan bencana menjadi berkurang karena keshalehan mereka menunda kemurkaanNya. Hal terutama kesyukuran dan kesabaran yang telah mereka teladani dan tularkan kepada umatnya membuat sirkulasi rezeki berputar lebih cepat. Sehingga meski rezeki terbatas tetap bisa diputar lebih cepat menimbulkan pemerataan distribusi rezeki.

Bahkan bisa menjadi keunggulan komparatif khusus berkat banyaknya jumlah manusia Indonesia yang terlahir Islam. Sebagaimana perkembangan pesat jumlah umat Islam di Eropa saat ini dan akan makin pesat ke depan. Jika jumlah umat banyak dan kemudian dibangkitkan oleh pemimpin visioner akan mengubah Indonesia –bukan hanya terbebas dari kemiskinan struktural– bahkan bisa menjadi adi kuasa baru. Apalagi jika ditambah memulai dengan menata keunggulan kompetitif Indonesia berbasis kekuatan genetiknya ■ 040618

Farid Poniman
Penemu STIFIn

TINGGALKAN KOMENTAR

Ketikkan komentar anda
Please enter your name here