Gerakan Sosial Menjadi Gerakan Politik

0
49
Gerakan Sosial

Gerakan sosial yang baik adalah yang bercirikan sebagai gerakan moral. Artinya memperjuangkan kekitaan, bukan keakuan. Bebas dari vested interest pribadi. Oleh karena itu sebaiknya digerakkan oleh orang non partisan.

Gerakan Politik Berawal Dari Gerakan Sosial

Gerakan sosial dapat berubah menjadi gerakan politik, jika tidak terkawal bergulir untuk menumbangkan kekuasaan. Meskipun sah menumbangkan kekuasaan melalui pemilu, namun etika gerakan sosial harus tetap menjadi gerakan sosial. Mengawal gerakan agar tidak menjadi gerakan politik, memerlukan seni dan kecerdasan tingkat dewa.

Baca juga : Mahatir Mohamad layak dapat hadiah nobel

Agar gerakan tersebut bergulir cepat menasional maka skala keprihatinannya juga berskala nasional. Setidaknya diperlukan dua hal untuk memastikan gerakan mendapat momentum, yaitu:

  1. Keadaan sosial yang terjepit akibat harga melambung, pengangguran meningkat, kriminalisasi tokoh, dan ruang gerak yang dibatasi,
  2. Ada kejadian khusus yang meski kecil memiliki dampak emosional yang dahsyat. Contoh seperti gaji presiden menjadi 500 juta. Atau dollar melambung ke angka emosional menjadi 15 ribu.

Bagi sebagian besar masyarakat dampaknya tidak katastropik tapi secara emosional itu menjadi gempa psikologis. Kepekaan rezim membaca situasi ini sangat diperlukan. Karena rezim sekarang berada di kuadran atas (didominasi oleh mindset Thinking dan Intuiting).

Di sisi lain, jika itu terjadi maka pemimpin gerakan tersebut dapat memanfaatkannya menjadi elan vital dan menggiring rezim dijadikan ‘common enemy‘. Kemampuan gerakan sosial menghidupkan elan vital dan common enemy menjadi momentum besar, namun tidak dipandang sebagai gerakan politik, adalah skill tingkat dewa. Masyarakat Indonesia yang bergenetik Feeling memerlukan pendekatan Feeling juga untuk diajak menjadi pejuang gerakan tersebut ■ 290518

Farid Poniman
Penemu STIFIn

Vitalisme adalah suatu doktrin yang mengatakan bahwa suatu kehidupan terletak di luar dunia materi dan karenanya kedua konsep ini, kehidupan dan materi, tidak bisa saling mengintervensi. Dimana doktrin ini menghadirkan suatu konsep energi, elan vital, yang menyokong suatu kehidupan dan energi ini bisa disamakan dengan keberadaan suatu jiwa.

Pada awal perkembangan filosofi di dunia medis, konsep energi ini begitu kental sehingga seseorang dinyatakan sakit karena adanya ketidakseimbangan dalam energi vitalnya. Dalam kebudayaan barat, yang dikaitkan dengan Hippocrates, energi vital ini diwakilkan dengan humor, dan dalam budaya timur diwakilkan oleh qi maupun prana. (sumber wikipedia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Ketikkan komentar anda
Please enter your name here